Kolaborasi Kreatif SMAN 1 Sumbawa Besar dan Universitas Teknologi Sumbawa Angkat Isu Keluarga dalam Naskah Film “Si Paling Mahir”

SMAN 1 Sumbawa Besar kembali membuktikan dedikasinya untuk mendukung pengembangan kreativitas, pemahaman media, dan kepekaan sosial di kalangan siswanya dengan mengadakan kerjasama kreatif bersama mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kerjasama ini terwujud dalam proses penulisan skenario film berjudul “Si Paling Mahir,” yang melibatkan siswa-siswi berbakat dari Teater Pustaka Raga di SMAN 1 Sumbawa Besar dan berlangsung selama lebih kurang dua bulan.
Kegiatan ini melibatkan siswa dari SMAN 1 Sumbawa Besar, yaitu Nanang Satria Wijaya dan Sifa Aurel Meilia, yang berkolaborasi langsung dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa, Puji Rahmatiyah dan Nadine Aisha Virginia. Kolaborasi ini dilakukan untuk memenuhi tugas akhir semester pada mata kuliah Dasar-dasar penulisan naskah yang diampu oleh bapak M.Syukron Anshori S.I.Kom., M.I.Kom Kerjasama antar jenjang pendidikan ini menciptakan sebuah ruang pembelajaran yang menyatukan perspektif akademik mahasiswa dengan inovasi siswa.
Skenario film “Si Paling Mahir” mengangkat tema yang sangat relevan dengan dinamika hidup Generasi Z, Millennial, hingga lintas generasi. Tema utama yang dibahas mengenai gaya pengasuhan orang tua yang merasa paling benar dalam mendidik anak, tanpa menyadari bahwa sikap ini justru mewariskan trauma dan luka serupa yang pernah mereka alami. Judul “Si Paling Mahir“ melambangkan sikap merasa paling tahu, paling benar, dan paling berhak, yang sering muncul dalam hubungan keluarga serta interaksi sosial sehari-hari.
Cerita ini mengisahkan tentang Raisa, seorang mahasiswi semester tiga yang tinggal dalam keluarga dengan dinamika psikologis yang rumit. Setiap anggota keluarganya memiliki mekanisme bertahan masing-masing untuk menghadapi luka emosional yang mereka simpan dan membangun kenyataan pribadi sebagai bentuk perlindungan.
Dengan pendekatan naratif yang penuh simbolisme dan dimensi psikologis, "Si Paling Mahir" menjadi lebih dari sekadar karya seni, ia menjadi alat untuk merenungkan kesehatan mental, komunikasi antar anggota keluarga, serta konsekuensi jangka panjang dari pola didik yang tidak sehat. Penulisan skenario ini juga mengenalkan peserta pada penerapan komunikasi antarpribadi dan komunikasi psikologis, baik dalam aspek konseptual maupun praktis.
Selama periode dua bulan kolaborasi, para peserta terlibat dalam diskusi yang mendalam, tukar informasi, pengembangan karakter, serta penjajakan ide dan perasaan. Proses ini menghadirkan pengalaman belajar yang berharga, di mana mahasiswa dan pelajar saling bertukar pandangan, ide kritis, serta kreativitas untuk menciptakan karya bersama.
Diharapkan, skenario film “Si Paling Mahir” dapat memberikan pengaruh yang luas, tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai sarana pendidikan yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya adanya komunikasi yang sehat di dalam keluarga dan komunitas sosial. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi bisa menghasilkan karya reflektif yang relevan dengan kehidupan generasi muda.












