Inovasi Pendidikan Berbasis Pembelajaran Bermakna dalam Masa Darurat COVID-19

Inovasi Pendidikan Berbasis Pembelajaran Bermakna dalam Masa Darurat COVID-19

World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau COVID-19 sebagai pandemic dan telah diumumkan langsung oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus di Jenewa, Swiss pada 11 Maret 2020. Hal tersebut didasari karena telah menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia. WHO sendiri mendefinisikan pandemi sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit. Pandemi COVID-19 akan berdampak dari berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, sosial, termasuk juga pendidikan. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada Kamis (5/3) menyatakan bahwa, wabah virus corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan.

Hampir 300 juta peserta didik terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam berdampak pada hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Di Indonesia sendiri, dunia pendidikan juga ikut merasakan dampaknya. Jika kondisi seperti ini terus meningkat, maka sudah bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan juga akan semakin meningkat. Dampak yang paling dirasakan adalah peserta didik di instansi penyelenggara pelayanan pendidikan, seperti sekolah disemua tingkatan, lembaga pendidikan non formal hingga perguruan tinggi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim telah melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan dan upaya pencegahan Nadiem Makarim mengeluarkan surat edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Virus Corona pada satuan pendidikan. Nadiem Anwar Makarim juga mendukung kebijakan pemerintah daerah meliburkan sekolah. Hal tersebut terlihat dalam keterangan

tertulisnya di Jakarta, Minggu (15/3/2020). Mendikbud juga mendorong penerapan sistem pembelajaran jarak jauh. Hal itu demi memastikan keamanan dan keselamatan semua warga sekolah. Surat Edaran Mendikbud terbaru terkait Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corovirus Disease (Covid-19)  SE: No 4 Tahun 2020. Edaran tersebut salah satu point  pentingnya adalah  tentang Ketentuan Proses Belajar Mengajar Dari Rumah (point 2.a) bahwa belajar dari rumah melalui

pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebanituntutan menuntaskan seluruh

capaian kurikulum untuk kenaikan kelas ataupun kelulusan.  Point 2.a tersebut di atas meminta kita menterjemahkan dan memahami tentang konteks pembelajaran bermakna yang dimaksud.

A. Teori Belajar Bermakna Ausubel 

David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang terkenal dengan teori belajar bermakna (meaningfull). Ausubel membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menerima peserta didik hanya menerima, jadi

tinggal menghafalkannya, tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh peserta didik, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Menurut Ausubel (Burhanuddin, 1996 : 112) pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur  kognitif seseorang. Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat peserta didik. Faktor-faktor

utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Pembelajaran bermakna terjadi apabila seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses belajar seseorang mengkonstruksi apa yang telah ia pelajari dan mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.

B. Tipe Belajar Menurut Ausubel

Ada beberapa tipe belajar menurut Ausubel, yaitu: 1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, peserta didik terlebih dahulu menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. 2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh peserta didik tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan. 3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada peserta didik sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.

 

C. Kebaikan Belajar Bermakna Menurut Ausubel dan Novak (Burhanuddin, 1996

: 115)

Ada tiga kebaikan belajar bermakna, yaitu :  1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat. 2. Informasi baru yang telah dikaitkan dengan konsepkonsep

relevan sebelumnya dapat meningkatkan konsep yang telah dikuasai sebelumnya sehingga memudahkan proses belajar mengajar berikutnya untuk memberi pelajaran yang mirip. 3. Informasi yang pernah dilupakan setelah pernah dikuasai sebelumnya masih meninggalkan bekas sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk materi pelajaran yang mirip walaupun telah lupa. Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut Ausubel, yaitu: 1. Belajar menerima yang bermakna hanya akan terjadi apabila peserta didik memiliki strategi belajar bermakna, 2. Tugas-tugas belajar yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. 3. Tugas-tugas belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik.

 

D. Langkah-langkah Belajar Bermakna Menurut Ausubel

Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep : 1) Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran. 2) Tentukan konsep-konsep yang relevan. 3) Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contohcontoh. 4)Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling Inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah. 5) Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep. 6) Langkah langkah yang dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation. Langkah-langkah Belajar Bermakna Menurut Ausubel : 1) Menentukan tujuan pembelajaran. 2) Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal,  motivasi, gaya belajar, dan sebagainya). 3) Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti. 4) Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari peserta didik. 5) Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret. 6) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

E. Inovasi Belajar Bermakna dalam Kondisi Darurat Covid-19

Berdasarkan kajian teori tersebut di atas dan mengobservasi pelaksanaan belajar jarak jauh pembelajaran berbasis online maka penulis dapat menjabarkan bahwa,  Pendidik/Guru harus memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan meskipun peserta didik berada dirumah, inovasi pembelajaran merupakan solusi yang perlu didesain dan dilaksanakan oleh guru dengan memaksimalkan media yang ada seperti media daring (online). Guru dapat melakukan pembelajaran menggunakan metode ELearning

yaitu pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat komputer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet, guru dapat melakukan pembelajaran   bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti Whatsapp (WA), telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial lainnya sebagai sarana pembelajaran sehingga dapat memastikan peserta didik belajar diwaktu bersamaan meskipun ditempat yang berbeda. Guru juga dapat memberikan tugas terukur namun tetap memastikan bahwa tiap hari pembelajaran peserta didik terlaksana tahap demi tahap dari tugas tersebut. Banyak lagi inovasi lainnya yang bisa dilakukan oleh pendidik demi memastikan pembelajaran tetap berjalan dan peserta didik mendapatkan ilmu sesuai kurikulum yang telah disusun pemerintah.

Kepala Sekolah juga harus berinovasi dalam menjalankan fungsi supervisi atau pembinaan kepada Guru untuk memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar telah dilakukan oleh guru dan peserta didik meskipun menggunakan metode jarak jauh (daring). Kepala Sekolah juga dapat memberikan solusi dan motivasi kepada guru di

sekolah, sehingga guru-guru yang belum siap memanfaatkan media daring dapat disupervisi dan diberi solusi. Untuk pengawas sekolah dibawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kota dan Kabupaten juga dapat berinovasi agar tetap menjalankan pengawasan dan tujuan dari supervisinya dapat berjalan dengan baik meskipun tidak harus selalu bertatap muka.

Inovasi dapat dilakukan melalui sistem pembelajaran jarak jauh antara lain dalam menerapkannya di langkah-langka pembelajaran. Contohnya sebagai berikut:

1. Menentukan tujuan pembelajaran : diinformasikan secara lisan maupun tertulis oleh guru , dan tergantung media daring yang digunakan.

2. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya) : memastikan peserta didik yang hadir dalam pembelajaran online , dapat dengan absensi langsung atau absensi yang ditandai dengan cat keaktivan peserta didik  dalam pembelajaran.

3. Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti : pembahasan konsep inti/topik/KD yang akan dicapai.

4. Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer (sebuah informasi yang disajikan sebelum pembelajaran yang dapat digunakan  oleh peserta didik untuk menyusun dan menafsirkan informasi baru masuk) yang akan dipelajari peserta didik.  Advance organizers sangat berguna dalam proses transfer pengetahuan

5. Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret : tentunya terkait kondisi aktual salah satunya tentang Covid-19 (sesuai fenomena dan pengalaman yang dialami peserta didik).

6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik: Guru dapat melakukan penilaian tersebut secara langsung  satu persatu dan diberi umpan balik atau penilaian secara klasikal, berdasarkan pengiriman tugas yang dilakukan peserta didik melalui media online. Menggunakan aplikasi pembelajaran yang memadai akan memumbantu guru memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang proses dan hasil belajar peserta didik. 

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bermakna adalah dalam kondisi apapun tujuan akan tercapai jika memenuhi syarat yaitu  (1) Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial; dan (2) Peserta didik yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan bejakar bermakna. Yah bermakna disini adalah bermakna “bagi peserta didik”.sehingga peserta didik dapat memiliki  skill yang dibutuhkan dalam menghadapi era 4.0  (AAS*).

sumber : Aas